Atasi Bau Limbah Ikan Peperek, Mahasiswa PKL Unair Gagas Inovasi Pupuk Organik Cair di PPP Bulu
Administrator / penelitian / 2026-01-30
Atasi Bau Limbah Ikan Peperek, Mahasiswa PKL Unair Gagas Inovasi Pupuk Organik Cair di PPP Bulu
TUBAN ??? Masalah bau tak sedap akibat limbah sisa pembongkaran ikan peperek di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bulu akhirnya menemukan titik terang. Melalui kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL), Ria Nanda Dwi Wahyudi, mahasiswa Teknik Lingkungan dari Universitas Airlangga, menginisiasi solusi kreatif berupa pengolahan limbah menjadi Pupuk Organik Cair (POC).
Keluhan Lingkungan dan Sistem yang Belum Terpadu
Selama ini, sisa pembongkaran ikan peperek menjadi tantangan lingkungan yang cukup serius di kawasan pelabuhan. Meskipun telah tersedia Tempat Penampungan Sementara (TPS), sistem pemilahan sampah organik dan anorganik masih sangat minim.
Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan limbah organik yang membusuk, sehingga memicu pencemaran udara berupa bau menyengat. Keluhan pun datang dari berbagai pihak, mulai dari pegawai kantor, masyarakat sekitar, hingga tamu yang berkunjung ke pelabuhan.
Analisis Masalah di Lapangan
Dalam kajiannya, Ria Nanda merumuskan empat poin utama untuk memetakan solusi bagi PPP Bulu:
Identifikasi Jenis Limbah: Mengidentifikasi sisa organ dalam dan bangkai ikan peperek sebagai sumber utama limbah padat organik.
Evaluasi Pengelolaan Saat Ini: Menemukan bahwa pengelolaan masih bersifat kumpul-angkut-buang tanpa adanya pengolahan lanjutan.
Dampak Lingkungan: Bau menyengat dan potensi berkembangbiaknya vektor penyakit akibat degradasi protein ikan yang tidak terkontrol.
Rekomendasi Perbaikan: Perlunya sistem yang lebih ramah lingkungan untuk mengubah beban limbah menjadi produk bernilai guna.
Solusi Kreatif: Transformasi Menjadi Pupuk Cair
Sebagai langkah konkret, mahasiswa Teknik Lingkungan Unair ini mengenalkan Metode Pembuatan Pupuk Cair. Inovasi ini tidak hanya menghilangkan bau, tetapi juga memberikan nilai ekonomi pada limbah yang sebelumnya dibuang.
Langkah-langkah pembuatan pupuk cair tersebut dilakukan dengan cara:
Pencacahan: Limbah padat ikan peperek dicacah untuk mempercepat proses dekomposisi.
Fermentasi (Bio-aktivator): Campuran limbah dimasukkan ke dalam wadah tertutup (anaerob) dengan menambahkan larutan starter seperti EM4 dan sumber gula (molase) sebagai nutrisi bakteri pengurai.
Masa Inkubasi: Proses fermentasi dilakukan selama 14???21 hari. Selama proses ini, protein dalam ikan dipecah menjadi unsur hara makro (N, P, K) yang sangat dibutuhkan tanaman.
Penyaringan: Setelah masa fermentasi selesai, cairan disaring dan siap diaplikasikan sebagai pupuk tanaman di area hijau pelabuhan atau dibagikan kepada masyarakat.
Harapan Ke Depan
Inovasi ini diharapkan tidak berhenti pada skala PKL saja. Dengan adanya metode ini, PPP Bulu memiliki peluang untuk memiliki sistem pengelolaan limbah mandiri yang lebih modern.
"Limbah ikan punya kandungan nitrogen yang sangat tinggi. Daripada menjadi polusi bau bagi pegawai dan tamu, lebih baik kita ubah menjadi nutrisi tanaman," ujar Ria Nanda di sela-sela kegiatannya.
(Administrator)
Bagikan Berita Ini :
Komentar
Tinggalkan Komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!